KACAMATA
Kacamata adalah lensa tipis untuk mata guna menormalkan dan mempertajam penglihatan (ada yang berangka dan ada yang tidak).[1] Sekarang selain menjadi alat bantu penglihatan, kacamata juga sudah menjadi pelengkap gaya serta menjadi alat bantu khusus untuk menikmati hiburan seperti kacamata khusus tiga dimensi.
Pendahuluan
Sejarah
kacamata pertama kali dimulai dari Nero,
seorang kaisar Roma, yang berkuasa pada tahun 54 sampai
68 Masehi. Nero selalu menggunakan batu permata
cekung untuk membaca hingga menonton pertunjukan, walaupun tidak diketahui
dengan pasti apakah Nero memiliki masalah dengan penglihatannya.
Penemuan
Kacamata[sunting | sunting
sumber]
Bangsa
Cina mungkin yang pertama kali menggunakan kacamata seperti kacamata yang lazim
digunakan sekarang ini. Biasanya kacamata itu terbuat dari lensa yang berbentuk
oval sangat besar dan terbuat dari kristal batu serta bingkai dari tempurung
kura-kura. Supaya dapat memegang kacanya, bangsa Cina menggunakan dua kawat yang
diberi pemberat serta dikaitkan ke telinga mereka atau lensanya diikatkan
ke topi atau menggunakan kait yang
dicantolkan ke pelipis mereka. Bagi bangsa Cina waktu itu, kacamata hanya
digunakan sebagai jimat keberuntungan
atau alat untuk membuat mereka terlihat lebih keren dan berwibawa sehingga
kadang mereka hanya mengenakan bingkai kacamatanya saja tanpa lensa.
Perkembangan
Kacamata
mulai dikenal di Eropa pada abad ke-13. Namun berbeda dengan bangsa Cina, orang
Eropa menggunakan kacamata untuk membantu penglihatan mereka. Kacamata yang
dikenakan masih menyerupai dengan kacamata bangsa Cina yakni terbuat dari
kristal batu atau batu transparan.
Kacamata Abad 16 di Jerman
Kacamata
pertama yang dipergunakan oleh orang Eropa hanyalah kaca pembesar yang dipegang dengan satu
tangan. Setelah itu barulah digunakan lensa kaca ganda yang diberikan gagang
supaya bisa dikaitkan ke telinga. Lalu, gagangnya pun dihilangkan dan
digantikan dengan pita atau tali agar bisa diikatkan ke kepala. Untuk beberapa
waktu, orang menggunakan kacamata per, yakni kacamata yang dijepit dengan alat
sejenis peniti ke atas hidung. Akhirnya, lama kelamaan, muncullah ide untuk
menggunakan kawat bengkok yang dikeraskan supaya menjadi gagang di telinga.
Lensa
yang digunakan untuk mengoreksi penglihatan konon digunakan oleh Abbas
Ibn Firnas [3] pada abad ke sembilan. Abbas
Ibn Firnas menemukan cara untuk memproduksi lensa yang amat
jernih. Lensa ini ada dibentuk dan diasah menjadi batu bulat yang dapat
digunakan untuk membaca sehingga terkenal dengan istilah batu membaca.
Pada
akhir abad ketiga belas, akhirnya ditemukan bahwa penggunaan kaca sebagai lensa
jauh lebih baik daripada menggunakan batu transparan. Hal ini berdasarkan hasil
penelitian ilmuan dan sejarawan Inggris yang bernama Sir
Joseph Needham. Penelitiannya menunjukkan bahwa kacamata ditemukan
1000 tahun lalu di Cina dan tersebar ke seluruh dunia pada zaman
kedatangan Marco Polo pada
tahun 1270. Hal ini juga disebutkan oleh Marco Polo dalam bukunya tersebut. Walau
tidak diketahui secara pasti, tetapi orang percaya bahwa tukang kacalah yang
menjadi penggagas hal ini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar